Rahasia Tergelap Diriku
Pasti semua orang pernah mengalami yang namanya
patah hati, tak terkecuali diriku. Lahir dari keluarga yang sederhana tak
membuat aku takut akan namanya cinta. Kata orang sih cinta pertama itu adalah
cinta yang tak bisa di lupakan, tapi kenapa aku mudah untuk melupakannya? Apa
karena dia bukan cinta pertama aku? Ahh sudahlah, aku sedang tak ingin
bercerita tentang cinta pertama aku, tapi aku ingin bercerita tentang cinta
ketiga aku.
Oh iya, nama aku venus (samaran). Saat aku duduk di bangku
kuliah, aku kembali merasakan namanya PDKT. Dia adalah teman satu kampus ku,
dia anak rantau sehingga dia kos di dekat kampus. Awalnya sih kami hanya
berteman biasa sebab waktu itu dia juga masih mempunyai seorang kekasih yg satu
kampus juga dengan kami.
Awal pendekatan di mulai di bulan Maret. Seperti
wanita pada umumnya, aku tidak sadar bahwa dia telah berusaha untuk mencuri
hatiku. Awalnya dia selalu curhat tentang mantannya itu. Loh kok mantan?
Hehehe, iya dia udah putus dari bulan Januari silam. Berarti kalau aku PDKT,
aku tidak melanggar peraturan PDKT, sebab aku dan dia sudah sama-sama sendiri.
Pertama kali aku jalan berdua itu ketika kami
sama-sama sedang kangen bioskop. Kebetulan teman-teman aku yang lain pada gak
bisa nemenin nonton, dia menawarkan diri untuk menemani nonton. Yaa karena aku
merasa dia adalah teman ku juga, itu sebabnya aku menerima tawaran untuk di
temani nonton.
Ternyata pergi berdua aja itu canggung banget,
bingung topik apa yang harus di bicarakan. Paling ujung-ujungnya dia curhat
lagi tentang mantannya itu.
Tuhan itu benar, feeling wanita sangat kuat.
Feeling aku mengatakan bahwa dia masih
menyukai mantannya. Tapi aku selalu menepis semuanya. Hingga dua bulan setelah
aku PDKT, aku bertemu dia di jalan, aku melihat dia membawa helm dua. Oke satu
helm buat dia, lalu satunya buat siapa? Ternyata helm yg satunya itu buat
mantannya, tepat hari itu dia habis pergi ke mangga dua untuk menemani
mantannya membetulkan laptop.
Wanita mana yg gak keiris hatinya ketika tau
gebetannya itu pergi dengan manntannya dan dia pergi tanpa bilang-bilang. Hari
itu juga aku berpikir “Apakah aku Cuma pelariannya aja?”.
Akhirnya bulan Juni datang. Atas kejadian bulan
kemarin, aku lebih belajar mempercayai dia. Setelah kejadian bulan kemarin itu,
dia selalu berusaha meyakinkan aku kalau dia memang suka sama aku. Aku pikir
gak ada salahnya untuk memberikan kepercayaan lagi.
Tepat di tanggal 17 Juni, dia menyatakan cintanya
kepadaku. Perasaanku
waktu itu antara bahagia, kaget, bingung semuanya campur
aduk. Ya gak ada salahnya untuk menerima dia jadi kekasih. Akhirnya aku punya
status yang jelas sama dia.
Tapi semuanya gak sesuai yg aku bayangkan, setelah
aku berpacaran dengannya, aku lebih sering menangis daripada tertawa.
Oke awal kami pacaran masih berjalan mulus tanpa
kendala apapun. Tetapi itu gak berlangsung lama. Aku kembali di buat menangis
karena dia benar-benar tak bisa melupakan mantannya. Ternyata aku hanya
dijadikan pelariannya saja.
Aku tak mengerti kenapa harus aku yang dia pilih
untuk pelampiasan hatinya. Apa semua salahku jika mereka dulu berpisah. Apa aku
yang merusak hubungan mereka. Banyak pertanyaan yang membuat aku semakin sakit.
Tapi setiap aku selalu ingin mundur dari hubungan
ini, aku selalu percaya bahwa dia akan berubah, lambat laun pasti dia akan benar-benar
mencintai aku dengan tulus.
Enam bulan kami lewati dengan perjuangan, selama
ini hanya aku sendiri yang berjuang untuk hubungan ini. Aku tak apa kalau aku
selalu yang berjuang sendiri, asal dia masih tetap ada di samping aku.
Masuk bulan ke tujuh hubngan kita. Tiba-tiba dia
tak pernah ada kabar. Dia selalu bilang sibuk dengan PKM nya. Aku mengerti
dengan kondisi itu. Setiap saat aku selalu kasih kabar dia walaupun tak pernah
dia balas satu pun kabar dari aku. Aku tak mengapa sebab mungkin dia memang
benar-benar sibuk.
Satu bulan dia tak ada kabar, bulan ke delapan
hubungan kami benar-benar hancur. Aku dengar dari teman-teman PKM nya, ternyata
dia lagi tertarik dengan anak muridnya. Jadi itu alasan dia menghilang dan tak
ada kabar.
Bohong kalau aku bilang tak apa-apa. Bohong kalau
aku bilang semuanya baik-baik saja. Seperti disambar petir di siang bolong.
Lagi-lagi ini terulang, lagi-lagi dia selingkuh hati. Dengan susah payah aku
bertahan, tetapi ini terjadi lagi. Dengan kejadian ini aku semakin yakin bahwa
dia benar-benar hanya menjadikan aku pelariannya saja.
Mungkin ini waktunya aku untuk mundur dari
hubungan ini. Untuk meyakinkan hatiku, aku menanyakan pertanyaan terakhir ke
dia. Aku bertanya “kamu mau nikah sama siapa?”. Pertanyaan sederhana yang bisa
membuat keputusan besar dalam hubungan ini. Dia menjawab “masih belum tau sama
siapa”. Yaa aku semakin yakin bahwa aku benar-benar tak pernah ada di hatinya.
Memang kita tak pernah tau kedepannya seperti apa,
apalagi soal pendamping hidup. Tetapi saat itu aku dan dia belum resmi putus. Coba
aja dia menjawab bahwa akan menikahi aku, pasti aku akan terus mempertahankan
hubungan ini. Mungkin juga memang sudah waktunya untuk aku mengistirahatkan
hati ini. Kami memutuskan berpisah di bulan Maret.
Mereka yang selama ini tak suka hubunganku dengan
dia, sangat-sangat bahagia melihat kita akhirnya putus. Cibiran dari mereka
semua yang membuat aku terkadang enggan untuk pergi keluar rumah. Selalu aku
ingat kata-kata mereka yang mengejek “tuh kan, lo Cuma di buat pelarian”. Aku
gak bisa mengelak lagi. Aku hanya tersenyum ketika mereka bilang seperti itu.
Aku tersenyum menandakan bahwa memang apa yang mereka katakan benar.
Aku selalu berharap mereka lupa atas kejadian yang
telah menimpaku. Kalau aku ingat lagi, sungguh sangat-sangat terluka apa yang
sudah terjadi.
Terkadang aku menyesali perkenalanku dengan dia. Aku menyesali
pernah menerima dia masuk di kehidupanku terutama di hatiku.
Sampai saat ini aku hanya tak habis pikir kenapa
aku yang dia pilih untuk disakiti ……
Komentar
Posting Komentar