Hujan Tidak Pernah Reda

Kalian tau rasanya hujan yang tidak pernah reda?

Tiga tahun belakangan ini, aku merasakan hujan yang tidak kunjung reda.
Semua jalan tidak bisa diakses.
Mata pun basah karena derasnya air.
Aku tenggelam akan hujan itu.
Cahayanya pun kelabu.
Suara ku kalah dengan petir.
Berpura-pura menerima basahnya.
Iya, aku sedang merasakan hujan tanpa reda.

18 September 2021,
Mami pergi untuk selamanya.
Setelah tiga bulan mami berjuang sembuh dari kanker paru-paru.
Tiga hari sebelum kepergiannya, mami mengajak aku mengobrol.
Menitipkan semua kebahagiaan mami yang dipunya.
Saat itu, sambil mengelus perutku yang tengah mengandung tujuh bulan, mami meminta maaf tidak bisa menemani kelahiran cucu pertamanya mami.
"Jangan pergi mi", saat itu hatiku berbicara lirih.
Aku terus memberikan semangat.
Menjanjikan banyak hal jika mami sembuh.
Tiga hari sebelum kepergiannya,
Kami saling bercerita satu sama lain.
Mami yang selama ini selalu khawatir dengan anak-anaknya.
Mami yang selama ini ingin sekali melihat cucu pertamanya.
Mami yang selama ini tidak pernah memikirkan dirinya sendiri.
Tiga hari kami habiskan bersama dengan semaksimal mungkin.
Tepat satu hari sebelum mami pergi,
Mami berkata "Kak, Mami capek, boleh ya Mami pergi sekarang?"
Berat rasanya mengiyakan permintaan mami.
Dengan banjir air mata, aku hanya bisa menggenggam tangannya sambil berkata "Kakak sayang sama mami, Maafin kakak udah sering buat mami marah, yang menjadi kebahagian mami akan kakak jaga"
Saat itu mami hanya bisa mengangguk dan menunggu keikhlasan. 
Saat itu juga ku berbisik bahwa aku ikhlas.

Kepergian mami adalah badai terbesar yang sedang aku rasakan.
Aku hanya hanyut didalam derasnya ombak.
Tidak ada tenaga untuk melawan ombak itu.
Terbawa arus yang aku sendiri tidak tau akan berlabuh dimana.

Saat ini, aku sedang menikmati hujan yang tidak pernah reda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Game Over

Kedekatan yang salah

PROPEN PART 9 …