Maafkan Aku
Kalau ingat Andi (nama samaran), jadi inget kisah yang penuh liku.
Awal aku kenal adalah ketika aku menyukai temannya yang bernama Minto (nama samaran). Andi itu adalah teman curhat ku agar aku bisa lebih dekat dengan Minto, sebab Andi adalah orang yang paling dekat dengan Minto saat itu. Tak disangka aku malah menyukai Andi.
Aku dan Andi makin hari makin dekat. Cerita tentang musibah keluarga masing-masing pun mengalir begitu saja. Tetapi, tak disangka semuanya tak semulus yang aku kira. Sahabat ku tak menyetujui hubungan ku dengan Andi. Mereka berpikir bahwa Andi hanya ingin mempermainkan aku, mereka pikir bahwa Andi hanya ingin memanfaat kan ku.
Suatu hari sahabat ku berbicara dengan cukup tegas, mereka menginginkan aku menjauhi Andi. Aku tak bisa membela diri sebab aku tak punya cukup bukti untuk meyakinkan mereka bahwa Andi tak seperti yang mereka pikir. Lalu saat itu apakah aku menangis? tentu tidak, aku tak bisa menangis di depan mereka. Saat itu, aku pun ijin pulang ke mereka, tentu ketika mereka sudah berhenti memarahi ku. Mereka menahan ku untuk pulang karena adzan maghrib berkumandang, tetapi aku tetap ingin pulang sebab hatiku mulai tak karuan. Hanya kamar tidur yang bisa menenangkan aku.
Aku pulang dengan kemelut hati yang tak kunjung reda. Aku pulang mengendarai sepeda motor dengan kecepatan yang sangat tinggi. Pandangan ku kosong, entah aku harus bersikap apa. Seandainya Andi tau apa yang tengah terjadi pada diri ku.
Tiba-tiba motor yang aku gunakan terpental di seberang jalan. Ya aku mengalami kecelakaan. Aku tak ingat bagaimana bisa terjadi hingga aku jatuh.
Aku istirahat total di rumah. Sahabat ku menjenguk, aku senang mereka menjenguk. Tetapi orang yang aku tunggu tak pernah hadir hingga aku sembuh. Ternyata sahabatku benar, Andi hanya ingin mempermainkan ku. Ku putuskan bahwa aku akan menjauhinya.
Hari itu dimana aku sedang bosan, aku buka facebook ku. Di beranda ku muncul beberapa status-status Andi yang intinya dia begitu sangat kecewa karena aku menghilang begitu saja tanpa ada kabar. Perasaan sedih muncul di hati. Ingin rasanya aku menemui Andi dan mengatakan bahwa aku benar-benar rindu dengannya. Ingin aku mengatakan bahwa aku tak benar-benar ingin menjauhinya.
Setiap hari aku berpikir apa yang sebaiknya aku lakukan, aku sungguh menyayanginya. Lalu aku putuskan untuk memulai kembali dengan Andi, tapi ku dengar ternyata dia sudah tak sendiri lagi. Dia mempunyai pacar yang bernama Tari (nama samaran). Betapa aku terkejut dan betapa aku sangat kecewa dengan dia. Sebegitu cepatnya kah dia bisa menemukan wanita lain. Ahh sudahlah, nasi sudah menjadi bubur.
Ku coba untuk bersikap biasa aja di depan dia, ku coba untuk selalu tersenyum di depan dia. Tetapi aku tak bisa membohongi perasaan aku terus menerus, rasa sakit ini tak bisa aku tutupi lagi. Aku putuskan untuk menjauhinya lagi.
Andi sadar bahwa aku mulai menjauh, dia mencoba menjelaskan bahwa dia dengan Tari hanya sebuah "kecelakaan". Tapi aku sudah terlanjur kecewa. Tak kudengarkan semua penjelasannya. Dan aku tetap memilih pergi dari hidupnya.
Semakin hari aku semakin kehilangan dia. Ku coba cari tahu dia dari media sosial. Ku lihat ada sebuah foto yang baru dia unggah. Foto dia dengan teman-temannya. Ada seorang wanita yang menurut aku sangat dekat dengan dia. Apalagi ternyata hubungan dia dengan Tari tak berjalan lama. Kembali ke wanita yang ada dalam foto itu. Aku khawatir jika ternyata wanita itu adalah pacar barunya. Yaap aku masih menyukai Andi.
Ternyata kekhawatiran ku pun terjadi. Andi berpacaran dengan wanita itu, Ita nama wanita itu. Dari semua media sosial yang sudah aku 'kepo' in, aku melihat bahwa Andi begitu sayang sama Ita.
Sedih rasanya mengetahui sesuatu yang seharusnya tak pernah aku ketahui. Tetapi jika memang Andi bahagia dengan Ita, aku pasti bahagia juga.
Dimana aku sedang menikmati kesendirian aku karena kisah aku yang tak berujung bahagia, datanglah Danu. Dia memberikan warna tersendiri di hidup aku. Dia ingin menjadikan aku pacarnya. Aku pun merespon dia dengan baik, entah aku benar-benar menyukai Danu apa aku hanya ingin mencoba melupakan Andi.
Setelah beberapa bulan, hubungan aku dengan Andi kembali baik. Kami men'status'kan diri kami adalah SAHABAT.
Entah kenapa saat Andi tahu bahwa aku berpacaran dengan Danu, Andi mulai menjauhi aku. Apakah aku membuat kesalahan? bukankah Andi juga udah punya pacar? lalu apakah aku tak boleh berbagi beban dengan orang lain?
Akhirnya setelah beberapa hari, Andi bisa menerima keberadaan Danu. Andi selalu ada saat aku bertengkar dengan Danu. Andi selalu menasehati aku, selayaknya adik dan kakak. Aku selalu nyaman dengan Andi, sebab Andi selalu bisa mengerti kondisi aku. Entah kenapa aku masih suka kesal kalau Andi membicarakan tentang Ita. Ternyata perasaan aku ke Andi tak pernah benar-benar hilang.
Pada suatu hari kami kembali bertengkar, entah sebab apa kami saling menjauh satu sama lain.
Lalu entah kenapa lagi-lagi kami kembali dekat satu sama lain, di saat aku bermasalah dengan Danu yang semakin acuh tiap harinya dan Andi yang bermasalah dengan Ita karena LDR nya.
Aku memutuskan hubungan ku dengan Danu di tanggal 1 Maret, dimana aku sudah berjalan 8 bulan. Sedangkan Andi yang berpisah dengan Ita pada bulan yang sama.
Aku dan Andi kembali menghabiskan waktu bersama, menonton bersama, wisata kuliner bersama, sampai gosipin orang pun bersama. Tak ada yang berubah di hati ini, Andi selalu ada pada ruang hati ini. Tetapi Andi sudah berbeda, Andi begitu menyayangi Ita, tak terlewatkan sedetik pun untuk tidak membicarakan Ita. Ku lihat sorot matanya bahwa dia begitu kehilangan Ita. Dia begitu menyesal telah berbuat salah ke Ita. Dia selalu ingin kembali ke pelukan Ita.
Saat itu tanpa berpikir panjang, aku menghubungi Ita. Aku mencoba membuat Andi dan Ita berbaikan, tetapi apa yang telah aku lakukan, aku malah membuat mereka tambah jauh.
Jelas Andi sangat marah padaku, Andi tak ingin mengenalku lagi. Andi mengatakan kata-kata kasar kepadaku. Sakit hati? iya aku sakit hati, tetapi pasti Andi jauh lebih sakit hati.
Sungguah tak ada yang bisa ku perbuat, memang aku dan Andi tak bisa bersama. Aku harus benar-benar melupakannya.
Setiap hari aku selalu merindukannya. Aku selalu merindukanya dari tempat yang tak pernah dia datangi.
Aku hanya ingin mengatakan "maaf untuk semua yang telah aku lakukan, aku sungguh tak bermaksud seperti itu, aku hanya berusaha membuat kamu dan Ita kembali, aku memang sayang kamu tapi aku sadar diri, aku hanya sahabat mu, tak pantas bila aku meminta lebih dari sahabat, maaf kan aku"
Awal aku kenal adalah ketika aku menyukai temannya yang bernama Minto (nama samaran). Andi itu adalah teman curhat ku agar aku bisa lebih dekat dengan Minto, sebab Andi adalah orang yang paling dekat dengan Minto saat itu. Tak disangka aku malah menyukai Andi.
Aku dan Andi makin hari makin dekat. Cerita tentang musibah keluarga masing-masing pun mengalir begitu saja. Tetapi, tak disangka semuanya tak semulus yang aku kira. Sahabat ku tak menyetujui hubungan ku dengan Andi. Mereka berpikir bahwa Andi hanya ingin mempermainkan aku, mereka pikir bahwa Andi hanya ingin memanfaat kan ku.
Suatu hari sahabat ku berbicara dengan cukup tegas, mereka menginginkan aku menjauhi Andi. Aku tak bisa membela diri sebab aku tak punya cukup bukti untuk meyakinkan mereka bahwa Andi tak seperti yang mereka pikir. Lalu saat itu apakah aku menangis? tentu tidak, aku tak bisa menangis di depan mereka. Saat itu, aku pun ijin pulang ke mereka, tentu ketika mereka sudah berhenti memarahi ku. Mereka menahan ku untuk pulang karena adzan maghrib berkumandang, tetapi aku tetap ingin pulang sebab hatiku mulai tak karuan. Hanya kamar tidur yang bisa menenangkan aku.
Aku pulang dengan kemelut hati yang tak kunjung reda. Aku pulang mengendarai sepeda motor dengan kecepatan yang sangat tinggi. Pandangan ku kosong, entah aku harus bersikap apa. Seandainya Andi tau apa yang tengah terjadi pada diri ku.
Tiba-tiba motor yang aku gunakan terpental di seberang jalan. Ya aku mengalami kecelakaan. Aku tak ingat bagaimana bisa terjadi hingga aku jatuh.
Aku istirahat total di rumah. Sahabat ku menjenguk, aku senang mereka menjenguk. Tetapi orang yang aku tunggu tak pernah hadir hingga aku sembuh. Ternyata sahabatku benar, Andi hanya ingin mempermainkan ku. Ku putuskan bahwa aku akan menjauhinya.
Hari itu dimana aku sedang bosan, aku buka facebook ku. Di beranda ku muncul beberapa status-status Andi yang intinya dia begitu sangat kecewa karena aku menghilang begitu saja tanpa ada kabar. Perasaan sedih muncul di hati. Ingin rasanya aku menemui Andi dan mengatakan bahwa aku benar-benar rindu dengannya. Ingin aku mengatakan bahwa aku tak benar-benar ingin menjauhinya.
Setiap hari aku berpikir apa yang sebaiknya aku lakukan, aku sungguh menyayanginya. Lalu aku putuskan untuk memulai kembali dengan Andi, tapi ku dengar ternyata dia sudah tak sendiri lagi. Dia mempunyai pacar yang bernama Tari (nama samaran). Betapa aku terkejut dan betapa aku sangat kecewa dengan dia. Sebegitu cepatnya kah dia bisa menemukan wanita lain. Ahh sudahlah, nasi sudah menjadi bubur.
Ku coba untuk bersikap biasa aja di depan dia, ku coba untuk selalu tersenyum di depan dia. Tetapi aku tak bisa membohongi perasaan aku terus menerus, rasa sakit ini tak bisa aku tutupi lagi. Aku putuskan untuk menjauhinya lagi.
Andi sadar bahwa aku mulai menjauh, dia mencoba menjelaskan bahwa dia dengan Tari hanya sebuah "kecelakaan". Tapi aku sudah terlanjur kecewa. Tak kudengarkan semua penjelasannya. Dan aku tetap memilih pergi dari hidupnya.
Semakin hari aku semakin kehilangan dia. Ku coba cari tahu dia dari media sosial. Ku lihat ada sebuah foto yang baru dia unggah. Foto dia dengan teman-temannya. Ada seorang wanita yang menurut aku sangat dekat dengan dia. Apalagi ternyata hubungan dia dengan Tari tak berjalan lama. Kembali ke wanita yang ada dalam foto itu. Aku khawatir jika ternyata wanita itu adalah pacar barunya. Yaap aku masih menyukai Andi.
Ternyata kekhawatiran ku pun terjadi. Andi berpacaran dengan wanita itu, Ita nama wanita itu. Dari semua media sosial yang sudah aku 'kepo' in, aku melihat bahwa Andi begitu sayang sama Ita.
Sedih rasanya mengetahui sesuatu yang seharusnya tak pernah aku ketahui. Tetapi jika memang Andi bahagia dengan Ita, aku pasti bahagia juga.
Dimana aku sedang menikmati kesendirian aku karena kisah aku yang tak berujung bahagia, datanglah Danu. Dia memberikan warna tersendiri di hidup aku. Dia ingin menjadikan aku pacarnya. Aku pun merespon dia dengan baik, entah aku benar-benar menyukai Danu apa aku hanya ingin mencoba melupakan Andi.
Setelah beberapa bulan, hubungan aku dengan Andi kembali baik. Kami men'status'kan diri kami adalah SAHABAT.
Entah kenapa saat Andi tahu bahwa aku berpacaran dengan Danu, Andi mulai menjauhi aku. Apakah aku membuat kesalahan? bukankah Andi juga udah punya pacar? lalu apakah aku tak boleh berbagi beban dengan orang lain?
Akhirnya setelah beberapa hari, Andi bisa menerima keberadaan Danu. Andi selalu ada saat aku bertengkar dengan Danu. Andi selalu menasehati aku, selayaknya adik dan kakak. Aku selalu nyaman dengan Andi, sebab Andi selalu bisa mengerti kondisi aku. Entah kenapa aku masih suka kesal kalau Andi membicarakan tentang Ita. Ternyata perasaan aku ke Andi tak pernah benar-benar hilang.
Pada suatu hari kami kembali bertengkar, entah sebab apa kami saling menjauh satu sama lain.
Lalu entah kenapa lagi-lagi kami kembali dekat satu sama lain, di saat aku bermasalah dengan Danu yang semakin acuh tiap harinya dan Andi yang bermasalah dengan Ita karena LDR nya.
Aku memutuskan hubungan ku dengan Danu di tanggal 1 Maret, dimana aku sudah berjalan 8 bulan. Sedangkan Andi yang berpisah dengan Ita pada bulan yang sama.
Aku dan Andi kembali menghabiskan waktu bersama, menonton bersama, wisata kuliner bersama, sampai gosipin orang pun bersama. Tak ada yang berubah di hati ini, Andi selalu ada pada ruang hati ini. Tetapi Andi sudah berbeda, Andi begitu menyayangi Ita, tak terlewatkan sedetik pun untuk tidak membicarakan Ita. Ku lihat sorot matanya bahwa dia begitu kehilangan Ita. Dia begitu menyesal telah berbuat salah ke Ita. Dia selalu ingin kembali ke pelukan Ita.
Saat itu tanpa berpikir panjang, aku menghubungi Ita. Aku mencoba membuat Andi dan Ita berbaikan, tetapi apa yang telah aku lakukan, aku malah membuat mereka tambah jauh.
Jelas Andi sangat marah padaku, Andi tak ingin mengenalku lagi. Andi mengatakan kata-kata kasar kepadaku. Sakit hati? iya aku sakit hati, tetapi pasti Andi jauh lebih sakit hati.
Sungguah tak ada yang bisa ku perbuat, memang aku dan Andi tak bisa bersama. Aku harus benar-benar melupakannya.
Setiap hari aku selalu merindukannya. Aku selalu merindukanya dari tempat yang tak pernah dia datangi.
Aku hanya ingin mengatakan "maaf untuk semua yang telah aku lakukan, aku sungguh tak bermaksud seperti itu, aku hanya berusaha membuat kamu dan Ita kembali, aku memang sayang kamu tapi aku sadar diri, aku hanya sahabat mu, tak pantas bila aku meminta lebih dari sahabat, maaf kan aku"
Komentar
Posting Komentar